SEKS DAN PENDIDIKAN SEKS


SEKS DAN PENDIDIKAN SEKS

Bandung Dialektika Klub
Zen Ramen, 24 April 2019

Ku tuliskan sebuah narasi, hmm narasipun sebenarnya bukan ini hanyalah ingatan-ingatan acakku yang masih berbekas, mungkin tidak sesuai versi aslinya karena terbatas oleh konstruksi pikiranku sendiri.

Waktu itu om Saleh mengatakan bahwa “seks di Indonesia dibatasi oleh norma agama dan budaya”

Lantas teh Atun langsung membantah dengan tegas “ Siapa bilang?”

Aku berpikir ya ini semacam pertarungan fenomena saja, lalu teh Atun melanjutkan “agama dan budaya tidak pernah membatasi seks” lalu seterusnya... aku tidak begitu ingat kata-kata pastinya namun kurang lebih yaitu tentang pendidikan seks di Pasantren. Ku buka lagi gawaiku mencari penjelasan sebelumnya yang telah dibagikan
  1. Kitab Qurratul Uyun disusun oleh Muhammad At-Tihami yang secara ringkas membahas mulai dari cara pernikahan, pola hubungan suami-istri, hingga adab dan tata cara berhubungan badan suami istri. Kitab ini diajarkan di salah satu pasantren yang ada di Jombang.
  2. Kitab Assikalaibineng versi aslinya disusun oleh Syekh Yusuf matannya menggunakan Bahasa Bugis membahas masalah rumah tangga, seksual, dan adat kebiasaan. Kitab ini diajarkan di salah satu pasantren tradisional Makassar
  3. Kitab Uqudulijain kitab dari Jawa Barat adapula naskah kuno Serat Centhini pada bab 9 membahas tuntas tentang Pendidikan seks dan naskah ini seing disebut kamasutranya orang Jawa

Dari penjelasan tadi setujulah aku bahwa agama dan budaya tidak membatasi Pendidikan seks. Namun di sisi lain sepaham jua aku bahwa seks itu sendiri memang di batasi oleh lingkup agama dan budaya menilik dari konteks fenomena yang terjadi saat ini. Fenomena terdahsyatnya ketika anak berusia 9 tahun yang masih duduk di bangku SD sudah melakukan hubungan intim. Fenomena ini disampaikan oleh pemantik pertama yaitu bang Zuki.
Penjelasan beliau dimulai dengan kata “Memek dan Kontol” diikuti dengan pertanyaan kenapa bahasa asing dianggap bahasa yang intelektual? lalu kenapa kata penis dan vagina dianggap terhormat sedangkan kata memek dan kontol tidak? Lantas apakah benar ada bahasa kotor? lebih lanjut menjelaskan ketika seorang anak mengucapkan kata “anjing” maka si anak akan merasa sangat berdosa. Ya kalau kata orang Indonesia “anjing, babi, monyet” itu bahasa kebun binatang padahal dalam sejarah perkebun binatangan hehehe :) tidak pernah anjing ada di kebun binatang begitupun babi. Lalu apakah bahasa itu kotor atau konstruksi pikiran kita yang kotor? Ya stigma ini jelas-jelas harus diubah.
(nb: kata memek masih tertera di KBBI, silakan dilihat langsung dari aplikasi KBBI V. Memek dalam KBBI berarti 1) merengek-rengek, lalu arti keduanya yaitu kemaluan perempuan; vagina)
Kala itu om Ahsan langsung mengatakan “dalam ilmu bahasa ada yang namanya semiotika maka saya akan tetap menggunakan ilmu itu dalam artian tidak akan menyebutkan kata “mem*k dan kont*ol” kenapa diberi tanda “*” ya karna om Ahsan juga tidak menyebutkan kata ini dengan gamblang hehehe 😊 kilas balik dari pernyataan ini saya sepaham kerena tidak semua masyarakat tahu bahwa selama ini pemikiran kita salah yang mereka tahu adalah ketika seorang anak mengucapkan kata yang mereka anggap tidak pantas maka mereka akan menyebut si anak tidak memiliki sopan santun dan bagaimana pula perasaan si anak ketika masyarakat menghujatnya lalu bagaimana pula sopan santun berbahasa yang sudah diajarkan sejak belia itu tiba-tiba dihilangkan. Ya disini aku sendiri mungkin terlihat netral atau bahkan bisa disebut tidak berpendirian karena semua pemikiran om, abang, kakak, teteh semuanya begitu luar biasa dan membuat nalarku terkesima jadi menurutku tinggal disesuaikan saja dengan konteksnya.
Kemudian ada 2 point penting yang disampaikan pemantik pertama om Zuki masih ingat dunggss yaa 😊 saya tidak begitu paham latar beliau tapi kalau tidak salah beliau bergerak pada bidang penyuluhan Pendidikan seks kepada masyarakat baik itu anak-anak, pasutri, lansia, hingga pekerja seks komersial karena menurut beliau kita tidak dapat mengontrol setiap orang maka memberikan tips dan cara agar terhindar dari dampak aktivitas seksual itu jauh lebih mungkin dilakukan:
  1. Memberi pengetahuan tentang Pendidikan seks mungkin ini lebih ke dampak penyakit yang ditimbulkan seperti penyakit Gonore, sifilis dll
  2. Hak pemenuhan kebutuhan kesehatan organ reproduksi (info lebih lanjut silakan hubungi dokter Spkk atau cari sendiri ya guys)

Lalu karena ini masih membicarakan mengenai penyakit maka salah seorang menyampaikan (maaf tidak tahu namanya jd tidak disebutkan 😊) dia mengatakan ada beberapa penyakit seksual  ditilik dari permasalahan psikologinya yaitu penyakit:
  1. eksibionisme yaitu semacam penyakit orang yang suka memamerkan alat kelaminnya lalu aku berpikir ketika seorang wanita suka memamerkan payudaranya apakah termasuk kedalam penyakit ini hahaha 😊
  2. Pedopilia, penyakit ini harus diperangi karena korbannya adalah anak-anak yang kemungkinan besar berujung pada maut bahkan pelaku biasanya membunuh si anak terlebih dahulu baru setelah itu diperkosa, naudzubillah
  3. Zoophilia atau bestialitas, prilaku penyimpang manusia yang berhubungan seks dengan binatang, penyakit ini sudah pasti memiliki orientasi seksual yang menyimpang. Lalu penyakit ini mengingatkanku dengan novel Cantik itu luka karya Eka Kurniawan
  4. Sadisme seksual yaitu pelaku baru terangsang atau meningkat gairah seksual apabila menyakiti pasangannya baik disetujui kedua belah pihak atau tidak salah satu contohnya yaitu film Fifty shades of grey (waktu diskusi aku tdk tau sama sekali film ini dan akhirnya sekarang sudah tau, langsung ditonton dungs 😊 dan satu pesanku jangan tonton film ini jika anda belum cukup umur dan pemikiran belum cukup dewasa)
  5. Masokisme, kalau penyakit ini adalah kebalikan dari sadisme yaitu seseorang meningkat libido seksnya ketika dirinya disakiti atau direndahkan (untuk lebih lanjut silakan dicari sendiri ya informasinya 😊)


ya mungkin ini saja yang dapat kutuliskan pembahasan dalam diskusi Bandung Dialektika Klub sebenarnya jauh lebih dalam yang dianalisis dari multidisipliner mengingat kakanda dan abangda dari berbagai disiplin ilmu. Contohnya teteh Nurul pemantik kedua membahas pendidikan seks dari disiplin ilmu Kewarganegaraan. Teteh nurul memulai diskusi dengan membedakan terlebih dahulu antara seks dan gender. Lalu ada pembanding yang juga menjelaskan adanya stereotip terhadap gender yang sebenarnya ada dalam buku pelajaran anak SD contohnya kalimat Bapak pergi ke kantor, Ibu pergi ke pasar. lalu budi bermain layang-layang, ani membantu ibu di dapur. Jadi ada semacam belenggu yang mengikat bahwa laki-laki ya ke kantor dan perempuan ke dapur begitulah kira-kira. Selanjutnya ada yang menyampaikan bahwa sesungguhnya undang-undang sudah mengatur tentang pendidikan seks dimulai dari tahun 1970.

gimana seru dong diskusi BDK :)
bagi teman-teman yang ingin berbagi pengetahuan dan juga ingin menambah dialektika dengan kaum cendikia dapat turut bergabung karena diskusi ini terbuka untuk seluruh kalangan baik akademisi maupun non akademisi
silakan datang ke Zen Ramen depan Museum UPI Bandung. kami menunggu kehadiran teman-teman semua :)

Salam hangat dari saya FITRA AUDINA si pendengar yang ulung dalam setiap diskusi hehehe :)

#salamdialektika



GALERI BDK








Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Beberapa tambahan film yang dapat dilihat dr persfektif psikologi, sosial dan saintifiknya jgn hanya sekedar visualnya
    Yaitu film Malena, Lolita, The Reader, dan Nymphomaniac

    (pesan kang vudu)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meruak Cinta Sang Pujangga

Pengalaman Mengikuti Ujian Masuk S2/Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia